Kamis, 20 Agustus 2009

terimakasih Tuhan

Kadang saya berpikir bahwa saya tidak berusaha cukup keras
Namun ada kekuatan lain yang membuat jalan saya terasa begitu mudah
Tidak sebanding dengan apa yang saya lakukan
Dan saya yakin bahwa itu adalah karena kekuatan doa
Dan itu pun bukan doa saya
(Wong saya lebih sering ngobrol seadanya sama Dia kok...)
Doa ibu dan bapak lah yang saya yakin menjadikan segalanya jauh lebih mudah dari yang saya kira

Tujuh hari lagi saya ujian seminar hasil
Habis itu tinggal satu langkah lagi menuju M.Psi
Waktu saya mepet
Nylepek
Dan terpaksa membuat repot orang banyak
Pembimbing, penguji, dan mbak2 sekretariat Mapro
Saya harus mengejar yudisium supaya bisa segera mendaftar wisuda

Ah...saya takut berencana
Saya mau berlari
Tapi banyak hal yang di luar kendali
Ada banyak hal yang tidak bisa saya kontrol

Tapi ya itu tadi..
Saya percaya pada kekuatan doa
Doa bapak ibu
Yang pengen saya segera lulus
Kalau bisa ya cum laude (masa' ga jadi cum laude cuman gara2 kuliah kelamaan...lak ya malu2in to...ketok kesed-e...)
Semoga kekuatan yang tak kelihatan itulah yang akan menuntun jalan saya mewujudkan mimpi saya, harapan bapak ibu


Senin, 18 Mei 2009

He will make a way

I just believe...that He will make a way...
Where there seems to be no way
He works in way I can't see

I just belive...that He will make a way...
for him...for me..for us...

Minggu, 05 April 2009

takut

aku menginginkan ini...
aku menginginkan itu...
kau menginginkan ini...
kau menginginkan itu...

namun jika itu harus dilepaskan
karena membahayakan
membahayakan aku
membahayakan kamu
membahayakan kita
membahayakan bangunan kita
tidak apa-apa...

aku takut ingin ini justru merusak
aku takut ingin ini justru membakar
aku takut ingin ini justru menjadikan semua sia-sia

takut
dan tidak mau
tidak ingin


Minggu, 29 Maret 2009

televisi dan kita, kita dan televisi

Saya habis baca blog saya jaman dulu di edilburga.blog.friendster.com. Ternyata saya lebih aktif menulis waktu itu...hahaha...

Salah satu cerita lucu yang saya tulis tahun 2005 adalah tentang Jonathan, murid mbak Inez yang hobi berat nonton sponge bob. Di usianya yang lima tahun, dia begitu fasih menirukan ucapan dan logat spong bob. 

Suatu ketika, ketika Jo pamit dari rumah oma-nya, oma berkata, "Besok kesini lagi ya..." Dan dengan gaya persis idolanya, Jo menjawab, "Hanya orang bodoh yang mau kesini." Dueng!!!

Saya kemudian teringat anaknya teman saya. Malam itu dia ke pastoran di Gereja bersama mamanya. Lalu dia masuk di taman tengah pasturan. Dengan gaya bicara seperti tokoh2 kartun dia berkata, "Lihat! Ada banyak sekali binatang di sini. Aku sayang sekali pada mereka. Mereka sangat lucu." Emang sih...ada anjing, hamster, dan ikan di taman itu... tapi caranya dia ngomong itu lho... ajaib banget...

Saya jadi berpikir, betapa kita (dan anak2 kita) begitu lekat dengan televisi. Ga ada kerjaan, nonton TV. Selesai ngerjain PR, nonton TV. Sebelum berangkat sekolah,nonton TV (sambil makan, disuapin si embak biar cepet). Berapa banyak waktu yang kita habiskan di depan kotak itu?

Saya yakin, penemu televisi memikirkan hal2 baik tentang temuannya. Dan sampai sekarang pun saya masih yakin kalau kita bisa menjadikan televisi sebagai sesuatu yang baik dan berguna bagi hidup kita. Remote control ada di tangan kita. Pilih saluran yang baik. Jika tidak ada tayangan yang baik, matikan.  Mudah bukan? 

Semoga saya (dan Anda) semakin mampu mengendalikan televisi, bukan dikendalikan oleh benda mati itu. Semoga.

Gottman's Marriage Tips - 2

Lanjutan...

3. Soften your "start-up"
Argumentasi seringkali diawali karena pasangan menajamkan konflik -dari yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa- dengan mengatakan sesuatu yang pedas ditambah pula dengan menaikkan nada bicara. Jadi...kalo mau menyelesaikan masalah...mulailah dengan lembut dan tanpa menyerang/menyalahkan. Entah laki-laki atau perempuan nih...begitu merasa "diserang" adanya juga jadi defensif. Betul?

6. Accept influence
Terutama utk para suami nih... Risetnya Pak Gottman mengatakan bahwa secara umum perempuan lebih mudah menerima pengaruh pasangannya. Supaya perkawinan berhasil, laki2 harus pula melakukan hal yang sama. Terimalah pengaruh istri Anda. Misalnya nih, ketika orangtua istri kita datang, dan istri meminta Anda utk pulang lebih awal, sebaiknya turutilah permintaannya sejauh itu memungkinkan, tdk perlulah ngotot bahwa tiap jumat Anda harus hang out bareng sobat2 cowok Anda...

5. Have high standarts
Aneh? Bukannya katanya harus menerima apa adanya? Tapi saudara2...riset menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki toleransi yang rendah terhadap perilaku negatif atau buruk, justru akan lebih berbahagia dalam perjalanan perkawinan mereka selanjutnya. Sebagai pasangan pengantin baru pun, sebaiknya kita menolak utk menerima begitu saja perilaku buruk pasangan yang menyakitkan kita, emotionally and physically... Begitu maksudnya... kalo habis mandi lupa jemur anduk mulu...bisa ditoleransi ga ya? :D

6. Learn to repair and exit the argument
Pasangan yang berhasil tahu cara keluar dari adu argumentasi. Pasangan yang bahagia tahu cara memperbaiki adu argumentasi sebelum hal itu menjadi buruk. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain:
- alihkan pembicaraan pada suatu hal yang benar2 berbeda
- gunakan humor
- katakan sesuatu yang bernada peduli pada pasangan (Ya..aku tahu...ini emang berat buat kamu.)
- membuat masalah menjadi jelas dan tetap berada di tempatnya (ga kemana2...ga ngungkit2 masa lalu, ga nyalahin orang lain, dsb)
- tunjukkan apresiasi pada pasangan dan perasaannya (makasih ya kamu sudah mau ngomongin ini...)
- kalau sudah memuncak nih... ambil break deh... 20 menit biasanya cukup sebelum kembali membicarakan masalah dengan kepala dan hati yang lebih adem

7. Focus on the bright side
Heheh...dimana2, saran ini tetap disarankan ya nampaknya... Tapi menurut Gottman, beginilah pasangan yang berhasil... Mereka yang menabung emosi positif dalam diri mereka cenderung lebih bahagia. Daripada mikirin yang jelek2 tentang pasangan kita, fokuskan pikiran kita pada hal2 baik yang ada di dirinya... Pastinya banyak dunk...kalo ga, mana mau kita nikah sama dia...


Situ Gintung: Mari Menonton Bencana

Banyak orang nonton, polisi tutup jalan.
Begitu sebuah judul di detik.com

Ya...ya... menonton sesuatu yang heboh adalah menarik
Ya...ya... menyaksikan suatu tempat yang berubah muka karena suatu hal itu seru
Ya...ya... melihat "keajaiban alam" itu selalu menjadi pengalaman yang bisa diceritakan ke teman-teman

Ya...ya... mungkin bencana sudah menjadi hal yang wajar buat kita
Ya...ya... mungkin ini hanya satu peristiwa duka saja diantara berjuta duka di negeri kita
Ya...ya... mungkin akhirnya kita menjadi begitu terbiasa dengan bencana
Ya...ya... mungkin nurani kita sudah kebal menyaksikan bencana, tak berniat melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk mengatasinya

Ya...ya... mungkin kita merasa bukan-tanggung jawab-saya-untuk-ikut-mencari-korban
Ya...ya... mungkin kita bingung ah-ga-kenal-ini
Ya...ya... mungkin kita yakin udah-banyak-partai-kasih-bantuan-kok

Semoga mungkin-mungkin itu tadi hanya pikiran saya
Semoga kita masih mau mendengar sayup-sayup bisikan minta tolong mereka
Mereka yang kehilangan ayah, ibu, suami, istri, anak, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, kerabat, tetangga, asisten rumah tangga, anjing kesayangan, kucing yang manis...

Semoga...

Jumat, 27 Maret 2009

Gottman's Marriage Tips - 1

Saya sedang mempersiapkan bahan untuk Kursus Persiapan Pernikahan di Gereja...
Tentang psikologi keluarga.
Secara saya belum menikah...musti rajin2 mencari ilmu tentang pernikahan.
Atas rekomendasi salah seorang sahabat, hasil penelitian Dr. John Gottman tampaknya menarik dan penting.
Gottman telah melakukan penelitian sejak tahun 1973 pada banyak pasangan. Dia mempelajari hal2 yg membuat pernikahan gagal atau berhasil, dan juga segala sesuatu yang mampu menjadikan perkawinan sebagai hal yg bermakna.

Gottman punya 7 tips, yang ini saya unduh dari www.gottman.com

1. Seek help early
Yup...banyak pasangan yang enggan mencari bantuan ketika ada masalah. Bantuan profesional seringkali diperlukan dalam usaha membuat pernikahan bahagia dan langgeng. Menurut penelitian Gottman, rata2 pasangan menunda 6 tahun sebelum mencari bantuan. Ngerinya lagi, pasangan yang memendam masalah dalam hati dan pikirannya sendiri, rata2 akan "menyerah" pada tujuh tahun pertama mereka

2. Edit Yourself
Nggak ada tempat untuk kata-kata yang critical, menyakitkan menusuk rasa dalam perkawinan. Tahan diri dan tahan mulut ketika beradu argumentasi dengan pasangan.

Lima lainnya...lanjutkan tulisan besok ya...